Minggu, 28 Agustus 2016


Profil Fakultas Ilmu Budaya UHO

 

Selayang Pandang


Wacana pendirian Fakultas Ilmu Budaya  telah lama berkembang di Universitas Halu Oleo. Wacana tersebut mulai dihembuskan untuk menjawab tuntutan pengembangan ilmu budaya, bahasa, dan sastra dalam pembangunan masyarakat Indonesia pada umumnya, dan Sulawesi Tenggara pada khususnya. Meskipun telah lama diwacanakan, upaya untuk merealisasikan pendirian fakultas ini baru dimulai pada tahun 2011 dengan membentuk beberapa program studi baru di bawah Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UHO. Untuk tahap awal, dibentuk dua program studi baru, yaitu: (1) Sastra Indonesia dan (2) Sastra Inggris yang mulai menerima mahasiswa baru untuk tahun akademik 2011/2012. Setelah itu, dibentuk lagi tiga program studi, yaitu: (1) Arkeologi, (2) Ilmu Sejarah, dan (3) Tradisi Lisan yang mulai menerima mahasiswa pada tahun akademik 2013/2014.
Kerja panjang tersebut akhirnya membuahkan hasil. Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo akhirnya resmi berdiri dan disahkan melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor: 001/SK/UN29/PP/2014 tertanggal 2 Januari 2014. Sehari berselang, Rektor Universitas Halu Oleo, Prof. Dr. Ir. H. Usman Rianse, M.S., melantik Prof. Dr. H. Nasruddin Suyuti, M.Si. sebagai dekan dari fakultas termuda di universitas negeri pertama di Sulawesi Tenggara ini. Pengesahan dan pelantikan tersebut menandai hijrahnya Jurusan Antropologi beserta kelima program studi barunya, dari FISIP UHO ke FIB UHO.
Pada tahun 2014, terjadi pergantian pimpinan di fakultas Ilmu Budaya. Prof. Dr. H. Nasruddin Suyuti, M.Si digantikan oleh Dra. Wa Ode Sitti Hafsah, M.Si, yang dilantik pada tanggal ……… oleh Rektor Universitas Halu Oleo, Prof. Dr. Ir. H. Usman Rianse, M.S.
Dalam melaksanakan tugasnya, dekan FIB dibantu oleh tiga orang Wakil Dekan, yakni Akhmad Marhadi, S.Sos., selaku Wakil Dekan I, Drs. Syamsumarlin, M.Si, selaku Wakil Dekan II dan Basrin Melamba, S.Pd., M.A, selaku Wakil Dekan III. Hingga saat ini, Fakultas Ilmu Budaya telah memiliki 54 orang tenaga Pendidik yang bertatus Dosen Tetap (PNS) dan …… Dosen Tetap Non PNS.


Visi, Misi, Tujuan, Motto dan Maklumat Pelayanan

VISI
Visi Fakultas Ilmu Budaya Pada Tahun 2019:
Menjadi fakultas yang maju, bermartabat, berbudaya akademik dan cerdas konprehensif serta menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki kreativitas dalam pembangunan kebudayaan, yang tumbuh dan berkembang pada masyarakat maritim dan pedesaan.
Maju adalah kemampuan untuk mencapai nilai atau standar tertentu yang diakui dalam pelaksanaan Tridharma yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan serta pengabdian pada masyarakat. Standar disesuaikan dengan standar yang ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Fakultas Ilmu Budaya yang maju dapat juga dilihat/diukur dari kualitas karya ilmiah yang dihasilkan termasuk kiprah civitas akademika dalam berbagai kegiatan ilmiah dan kemasyarakatan di tingkat nasional;
Bermartabat adalah tingkat harkat kemanusiaan atau harga diri. Fakultas yang bermartabat adalah fakultas yang menjadikan civitas akademiknya mempunyai harga diri yang tinggi, berpedoman kepada keyakinan dasar, nilai-nilai agama dan nilai-nilai luhur. Menghargai eksistensi hak asasi manusia dengan prinsip kesetaraan dan keadilan. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain;
Berbudaya Akademik adalah semua kegiatan akademiknya akan senantiasa untuk menemukan cara efektif dan efisien, memiliki kompetensi dan kapabilitas, berwawasan, memahami cara mengimplementasi IPTEKS dengan baik serta menjunjung tinggi profesionalisme;
Kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata, dalam bentuk ciri-ciri aptitude maupun non aptitude,dalam karya baru maupun kombinasi dengan hal-hal yang sudah ada, dan semuanya relatif berbeda dengan yang sudah ada sebelumnya dengan berdasarkan nilai-nilai profesionalisme;
Cerdas komprehensif meliputi cerdas spiritual, cerdas emosional, cerdas sosial, cerdas intelektual, dan cerdas kinestetis.
Makna cerdas komprehensif
Cerdas spiritual:
Beraktualisasi diri melalui olah hati/kalbu untuk menumbuhkan dan memperkuat keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia termasuk budi pekerti luhur dan kepribadian unggul.
Cerdas Emosional dan Social:
Beraktualisasi diri melalui olah rasa untuk meningkatkan sensitivitas dan apresiativitas akan kehalusan dan keindahan seni dan budaya, serta kompetensi untuk mengekspresikannya.
Cerdas Sosial:
Beraktualisasi diri melalui interaksi sosial yang (a) Membina dan memupuk hubungan timbal balik; (b) Demokratis; (c) Empatik dan Simpatik; (d) Menjunjung tinggi hak asasi manusia; (e) Ceria dan percaya diri; (f) Menghargai kebinekaan dalam bermasyarakat dan bernegara; (g) Berwawasan kebangsaan degan kesadaran akan hak dan kewajiban warga Negara.
Cerdas intelektual:
Beraktualisasi diri melalui olah pikir untuk memperoleh kompetensi dan kemandirian dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Aktualisasi insan intelektual yang kritis, kreatif, inovatif dan imajinatif.
Cerdas kinestetis:
Beraktualisasi diri melalui olahraga untuk mewujudkan insan yang sehat, bugar dan berdaya tahan, sigap, terampil, dan berintegritas.
MISI
Misi Fakultas Ilmu Budaya Tahun 2019:
  1. Menyelenggarakan pendidikan di bidang Ilmu Pengetahuan Budaya, berbasis riset sehingga lulusannya memiliki kreativitas dan berdaya saing tinggi dalam kancah global.

  2. Menyelenggarakan penelitian kebudayaan pada masyarakat maritim dan perdesaan yang berorientasi pada publikasi dan perolehan HAKI.

  3. Menerapkan hasil-hasil penelitian bidang kebudayaan dalam rangka melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai budaya berbasis kearifan lokal pada masyarakat maritim dan perdesaan.

  4. Menyelenggarakan tata kelola fakultas yang mandiri, transparan dan akuntabel sehingga mampu memberikan layanan prima pada masyarakat multi kultural.

  5. Mengembangkan potensi mahasiswa di bidang kerohanian dan karakter, penalaran olahraga dan seni, serta kewirausahaan guna mendukung pengembangan masyarakat berbasis kearifan lokal untuk membangun atmosfir akademik fakultas di tingkat Nasional dan Internasional.

  6. Menyelenggarakan penciptaan fakultas berbasis budaya lokal, yang nyaman, aman dan berwawasan lingkungan untuk mendukung penyelenggaraan Tridharma Perguruan Tinggi.
TUJUAN STRATEGIS
Tujuan Strategis yang ingin dicapai Fakultas Ilmu Budaya, adalah:
  1. Dihasilkannya lulusan yang bermutu, berbudaya akademik dan berdaya saing;

  2. Tercapainya peningkatan kualitas penelitian dan pengabdian yang memiliki daya  saing di tingkat Regional, tingkat Nasional bahkan Internasional;

  3. Tersedianya sistem tata kelola yang baik (good faculty governance);

  4. Tercapainya peningkatan prestasi mahasiswa dalam kegiatan penalaran, minat bakat, dan kewirausahaan di tingkat Regional maupun Nasional;

  5. Terciptanya Kampus Fakultas Ilmu Budaya yang aman, nyaman dan berwawasan lingkungan untuk mendukung penyelenggaraan tridharma perguruan tinggi;

  6. Terwujudnya sistem penjaminan mutu akademik secara menyeluruh di Jurusan/Program Studi

 PRODI/JURUSAN

  1. ANTROPOLOGI
  2. SASTRA INGGRIS
  3. SASTRA INDONESIA
  4. SASTRA INDONESIA (KONSENTRASI ARAB)
  5. TRADISI LISAN
  6. ILMU SEJARAH
  7.  ARKEOLOGI
KLIK DISINI..!!!
TENAGA PENDIDIK (DOSEN) FAKULTAS ILMU BUDAYA UHO



Kerjasama Dalam Negeri

INSTANSI DALAM NEGERI YANG MENJALIN KERJASAMA DENGAN FAKULTAS ILMU BUDAYA DALAM TIGA TAHUN TERAKHIR
No. Nama Instansi Jenis Kegiatan Kurun Waktu Kerja Sama Manfaat yang telah diperoleh
Mulai Berakhir
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Barisda Sultra Penelitian 2013 2014 Penentukan arah kebijakan di bidang sosial budaya
2 Pemda kab. Konkep Penelitian Sejarah 2013 2014 Data Base Potensi Daerah Dalam Menentukan Arah Kebijakan
3 Pemda Konsel Penelitian studi aspirasi warga miskin 2010 2011 Data base pengambilan kebijakan tentang penangan kemiskinana‘
4 Pemkot Bau-Bau Penelitian  model pengembangan makan trdisional 2012 2013 Untukrefitalisasi makanan tradisional
5 Dinas Sosial Sultra Penelitian Pemetaan Konflik 2013 2014 Untuk mengetahui data base potensi dan cara penaganannya
6 Pemda Konsel Penelitian 2013 2014 Untuk mengetahui nilai sosial budaya yang berlaku di msyarakat
7 Pemda konsel Penelitian 2010 2011 Zakat sebagai alternatif dalam menangi ekonomi masyarakat
8 Pemda kolaka utara Penelitian Juli 2014 Sept. 2014 Mengetahui peluang-peluang investasi di kolaka utara
5 Perpustakaan dan Arsip Pelayanan Literatur
Mahasiswa
2010 2012 Pengembangan ilmu
6 Kementerian Luar Negeri Pelatihan Workshop 2010 2012 Pengembangan ilmu
9 Kab.Wakatobi Penelitian Agustus 2012 Sept.
2012
Dapat mengetahui sumber – sumber pendapatan asli daerah diberbagai sektor dan bidang
10 Dinas Sosial Propinsi Sulawesi Tenggara Penelitian
(tahap I)
Agustus 2012 Sept.
2012
Dapat mengetahui jenis – jenis konflik serta potensi konflik yang ada di daerah rawan konflik serta proses penyelesaiannya.
11 Dinas Sosial Propinsi Sulawesi Tenggara Penelitian
(tahap II)
Juli
2014
Sept.
2014
Dapat mengetahui jenis – jenis serta potensi konflik serta penyelesaiannya.
12 Badan Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Makassar Penelitan Agustus
2012
Sept.
2012
Dapat menemukan metode untuk memberdayakan kondisi adat terpencil pada suku Bugis
13 Dinas Sosial Kab.Konawe Utara Penelitain Juli
2013
Sept.
2013
Dapat mengetahui layak atau tidaknya suatu lokasi dapat dijadikan sebagai lokasi KAT
14 Dinas Sosial Propinsi Sulawesi Tenggara Penelitian April
2014
Juni
2014
Untuk mengetahui lokas – lokasi yang dapat dijadikan sebagai tempat pemilihan komunitas adat terpencil
15 Kabupaten Muna Penelitian Juli
2012
Sept.
2012
Mengetahui bagaimana kepuasan masyarakat terkait dengan pelayanan pemerintah Kab.Muna.
16 Komisi Pemilihan Umum Seleksi anggota KPUD 2013 2013 Terpilih komisioner KPUD Provinsi Sultra
17 KPU Provinsi Sultra Sosialisasi dan Pelatihan 2012 2012 Pendidikan Politik Pemilih Pemula bagi Siswa/Siswi
SMA/SMK/MA Negeri/Swasta
18 CEPP Uni-Link Rakernas 2012 2013 Program Kerja Nasional CEPP
19 Balitbang kab. Bombana Penelitian 2012 2013 Memahamai dampak sosial masyarakat di daerah pertambangan
20 Kab. Kolaka Penelitian 2012 2013 Mehamai budaya lulo dan simbol/makna didalamnya
21 Diknas Provinsi Pengabdian 2010 2012 Memberikan kampanye tentang bahaya narkoba bagi kalangan sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah umum (SMU)
22 Diknas Provinsi Pengabdian 2012 2013 Mengetahui Pengetahuan lokal orang bajo tentang Pendidikan anak
23 Diknas Provinsi 2013 2014 Memahami Pengetahuan masyakat tentang pengolahan pohon aren menjadi gula aren dan makanan tradisional
24 Kementrian Pariwisata Tim perumus/juri 2013 2013 Mengaktualisasikan nilai-nilai kepahlawanan R.A. Kartini  melalui berbagai jenis kegiatan dan Lomba antar Kabupaten di Pakujembara dan Ratubangnegoro.
25 Universitas Indonesia (UI) Pelatihan 2014 2014 Peningkatan Kesadaran Kewarganegaraan, Nasionalisme, dan Kebangsaan Melalui Pelatihan MICE & Events Para Dosen/Calon Dosen/Trainer Mata Kuliah Pariwisata, bagi PNS Tk I, II, dan Karyawan Perusahaan Swasta dari Seluruh Indonesia
26 Pemda Konawe Kepulauan Tim Penyusun 2014 2014 Menyusun Master Plan Pengembangan UMKM di Kabupaten Konawe Kepulauan
27. Diknas Provinsi Sultra TIM PENYUSUN 2014 2014 Menyusun Kurikulum Pembelajaran Muatan Lokal Di Sultra
28 Balai pelestarian cagar budaya Sulsel,Sulbar Dan Sultra Kerja sama 2013 2018 Menunjang di bidang penyelenggaraan pendidikan, penelitian dan pengabdian
29. MLI (masyarakat linguistik Indonesia) Ketua MLI  Cabang Sultra 2013 2016 Menjadi ketua cabang untuk menyusun tentang ekolingiustik
30. Asosiali Peneliti Bahasa-Bahasa Lokal Ketua APBL Cabang Sultra 2014 2015 Mengetahui dan menyusun potensi-potensi bahasa lokal di Sultra
31. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Kerjasama 2014 2017 Meningkatkan hubungan kelembagaan antara kedua pihak
32. Pemerintah Kabupaten Muna Penelitian dan Pengabdian pada masyarakat 2014 2019 Memberikan sumbangan pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta seni
33. Pemerintah Daerah Kabupaten Kolaka Timur Pendidikan dan Pengajaran Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat 2015 2020 Meningkatakan Pengembangan dalam berbagai bidang, mendukung peningkatan Pembangunan daerah
34. Universitas Udayana, Denpasar Bali Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat 2015 2019 Terjalin hubungan yang baik antar perguruan tinggi dalam meningkatkan kualitas pendidikan melalui pelaksanaan Tridharma

Sepenggal Sejarah UHO

 Rektorat Universitas Haluoleo
 
Universitas Haluoleo (Unhalu) didirikan pada tahun 1964 sebagai perguruan tinggi swasta filial dari Universitas Hasanuddin Makassar. Setelah tujuh belas tahun berselang, Universitas Haluoleo diresmikan sebagai perguruan tinggi negeri pertama di Sulawesi Tenggara oleh Dirjen Pendidikan Tinggi; Prof. Dr. Doddy Tisnaamidjaja mewakili Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang masa itu dijabat oleh Prof. Dr. Nugroho Notosusanto pada tangggal 19 Agustus 1981 sebagai perguruan tinggi negeri ke 42 di Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 37 tahun 1981 yang terdiri dari: - Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan - Fakultas Ekonomi - Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik - Fakultas Pertanian.
Ketika diresmikan, Universitas Haluoleo menempati kampus Kemaraya yang arealnya hanya seluas 7 Ha. Kondisi kampus yang relatif sempit ini mengharuskan para pendiri untuk mencari kampus alternatif sekaligus sebagai perluasan daya tampung`dan mengantisipasi pertambahan fakultas. Seiring dengan itu, kepercayaan masyarakat pun semakin besar terhadap Universitas Haluoleo, kendati hanya didukung oleh 17 orang tenaga dosen tetap.
Setelah dua tahun diresmikan, dimulailah pembangunan kampus Hijau Bumi Tridharma Anduonohu yang menempati areal 250 Ha, yang ketika itu berada di pinggiran Kota Kendari, berjarak 14 kilometer dari pelabuhan laut Teluk Kendari. Setelah perluasan Kota Kendari, kampus Anduonohu saat ini berada di jantung kota. Bersamaan dengan itu, Senat Universitas Haluoleo menyetujui singkatan Universitas Haluoleo berubah menjadi UNHALU.
Pembangunan kampus yang relatif luas ini membutuhkan waktu sekitar sepuluh tahun untuk merampungkan gedung perkulihan dan gedung perkantoran serta fasiltas penunjang lainnya. Menandai rampungnya pembangunan kampus Anduonoho ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Bapak Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro pada tanggal 4 April 1994 melakukan penandatanganan prasasti peresmian.
Menjelang penyelesaian pembangunan Kampus Anduonohu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menutup pengoperasian Sekolah Pendidikan Guru (SPG) dan Sekolah Guru Olahraga (SGO), sehingga semua fasilitas berikut tenaga pengajar dan karyawannya dialihkan ke Universitas Haluoleo. Sejak saat itu Universitas Haluoleo memiliki dua kampus perkuliahan utama, yakni; Kampus Kemaraya dan Kampus Anduonohu, ditambah dua kampus pendukung perkuliahan bekas SPG dengan luas areal 4 ha dan 3 ha bekas SGO.
Sebagai Perguruan Tinggi terkemuka di jazirah tenggara Pulau Sulawesi, Universitas Haluoleo secara aktif memberi sumbangan pemikiran dalam rangka pengembangan 2960 desa, 133 kecamatan, 10 kabupaten dan 2 Kotamadya yang ada di wilayah ini. Termasuk pertumbuhan penduduk Sulawesi Tenggara yang mencapai 2,72% per tahun, jauh di atas pertumbuhan rata-rata penduduk nasional yakni; 1,92. Saat ini penduduk Sulawesi Tenggara berjumlah 2,72 juta jiwa yang sebagian besar bermukim di pedesaan.
Kata “Haluoleo” diambil dari nama salah seorang raja pada Kerajaan Konawe yang hidup sekitar abad tujuh belas. Haluoleo selain dikenal sebagai pemimpin yang bijak, diyakini pula sebagai ksatria yang tak kenal menyerah dan gigih membela tumpah darahnya. Secara harfiah Haluoleo berarti delapan hari dalam bahasa Tolaki – bahasa penduduk asli Kerajaan Konawe yang mendiami Kendari.
Berdasarkan Surat Edaran Rektor Nomor 2190/UN29/SE/2013 tanggat 10 Juli 2O13, penulisan nama Universitas Haluoleo berubah menjadi Universitas Halu Oleo disesuaikan dengan penulisan nama universitas ini dalam Keputusan Presiden Republik lndonesia Nomor 37 Tahun 1981 tentang Pendirian Universitas Halu Oleo. Singkatannya pun berganti menjadi UHO (dibaca: u-ha-o).

Rektor

Beberapa Rektor Universitas Haluoleo, mulai dari Swasta hingga Negeri adalah :
  • Drs. Ld. Malim
  • Prof. H. Eddy Agussalim Mokodompit, M.A.
  • Prof. Dr. Ir. H. Soleh Solahuddin, M.Sc.
  • Prof. Dr. Abdurrauf Tarimana
  • Prof. Ir. H. Mahmud Hamundu, M.Sc.
  • Prof. Dr. Ir. Usman Rianse, M.S

http://www.uho.ac.id/fakultas/fib/hubungi-fib-uho/

Senin, 14 Maret 2016

Buton Selatan

Kabupaten Buton Selatan atau disingkat Busel merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Tenggara, hasil pemekaran dari Kabupaten Buton pada pertengahan tahun 2014 menjelang akhir kepengurusan DPR RI periode 2009-2014 [1]. Alasan pemekaran kabupaten ini salah satunya karena akses yang menghambat pelayanan. Sejak pemekaran Kota Baubau pada tahun 2001, ibukota Kabupaten Buton dipindahkan ke Pasarwajo. Akses menuju Pasarwajo bagi masyarakat Buton Selatan harus melalui Kota Baubau terlebih dahulu karena belum ada akses langsung dari wilayah Buton Selatan ke Pasarwajo. Terlebih beberapa daerah di Buton Selatan merupakan pulau-pulau yang terpisah dari Pulau Buton, seperti Pulau Kadatua, Pulau Siompu, dan Pulau Batu Atas, pulau paling selatan di Sulawesi Tenggara. Kabupaten Buton Selatan sebagian besar wilayahnya terletak di Pulau Buton yang merupakan pulau terbesar di luar pulau induk Kepulauan Sulawesi, atau pulau ke-130 terbesar di dunia [2].

Sejarah Singkat
Buton Selatan telah eksis sejak zaman Kerajaan dan Kesultanan Buton. Dalam Undang-Undang Martabat Tujuh (sekitar tahun 1610), yakni undang-undang Kesultanan Buton pada masa Sultan Buton ke-4, disebutkan daerah-daerah Kesultanan Buton. Kesultanan Buton terdiri atas 72 kadie yang diduduki oleh 30 menteri dan 40 bobato. Sedangkan sisanya menandakan kaum yang memegang pemerintahan di pusat. Dari 70 bagian tersebut dibagi lagi menjadi dua bagian besar yakni Pale Matanayo dan Pale Sukanayo [3]. Di wilayah Pale Matanayo, Menteri Baluwu mengepalai Rongi, Sempa-Sempa, Tambunaloko, dan Kaindea (Distrik Sampolawa) dan Kaoengkeongkea (Distrik Pasarwajo) dengan nama kesatuannya Lapandewa. Selanjutnya Menteri Ketapi di Busoa (Distrik Batauga), Lakina Tobe-Tobe di Tobe-Tobe (Distrik Batauga), dan Lakina Batauga di Batauga (Distrik Batauga) [4]. Di wilayah Pale Sukanayo, Menteri Peropa di Wabula dan Wasuemba (Distrik Sampolawa), Warugana (Distrik Batauga), dan Ballo (Kabaena). Kemudian Menteri Gama di Lipu, Kaufe, Kapea, dan Banabungi (di pulau Kadatua) yang masuk pada Distrik Batauga dan Wakoko Distrik Pasarwajo. Menteri Siompu di Biwina-pada, Molona, Kaimbulawa, dan Lontoi (terdapat di Pulau Siompu) di Distrik Batauga. Selanjutnya Menteri Lantongau di Katokobari (Distrik Mawasangka) dan Saumolewa (Distrik Sampolawa), Lakina Bola di Lakulepa dan Rano (Distrik Batauga), Lakina Sampolawa di Katilombu Uwe-bonto, dan Mambulu (Distrik Sampolawa), Lakina Kambe-Kambero (Distrik Batauga), Lakina Labalawa (Distrik Batauga), Lakina Lawele di Lawele (Distrik Batauga), dan Lakina Laompo di Laompo (Distrik Batauga) [5].

Keadaan Wilayah
Wilayah Kabupaten Buton Selatan berbatasan dengan:

Pemerintahan

Pemerintahan Daerah
Wilayah Kabupaten Buton Selatan terdiri dari 7 kecamatan, yaitu:
  1. Kecamatan Batauga
  2. Kecamatan Sampolawa
  3. Kecamatan Lapandewa
  4. Kecamatan Batu Atas
  5. Kecamatan Siompu
  6. Kecamatan Siompu Barat
  7. Kecamatan Kadatua
Sosial dan Kependudukan

Penduduk
Sebagaimana halnya wilayah-wilayah lain bekas Kerajaan dan Kesultanan Buton, etnis di Buton Selatan juga beragam. Sampai saat ini para ahli belum mendapatkan kesepakatan berapa banyak sesungguhnya etnis yang ada di Buton. Namun jika melihat kelompok besarnya, di Buton Selatan umumnya didominasi etnis Ciacia dan sisanya Wolio.

Agama
Umumnya masyarakat Buton Selatan memeluk agama Islam.

Pekerjaan
Masyarakat Buton selatan berprofesi sebagai petani, nelayan, pelaut, pedagang, dan sebagian bekerja di sektor jasa lainnya.

Ekonomi

Pertanian dan Perkebunan
Produksi hutan Buton Selatan adalah rotan jenis batang yang memiliki luas area 150 Ha dengan total produksi 85.604 dan nilai produksinya mencapai 34.241.200. Selain itu terdapat pula perkebunan pohon palm agel yang digunakan sebagai salah satu bahan baku tali untuk dibuat menjadi aneka kerajinan, salah satunya dibuat sebagai tas tangan Agel. Di mana tas Agel ini merupakan salah satu cendera mata khas Sulawesi Tenggara.

Perikanan
Potensi ekspor selain tambang yaitu ikan laut yang mencapai ± 41.168,52 ton sehingga Kabupaten Buton Selatan merupakan jalur ikan terbesar di Indonesia. Terdapat pula potensi budidaya rumput laut yang produksinya mencapai ± 1.258,89 ton.

Pertambangan
Potensi ekonomi di Kabupaten Buton Selatan secara utuh memiliki tujuh potensi tambang yaitu mangan, uranium, nikel, aspal, pasir besi, marmer, dan logam mulia yang sebagian sudah menjadi komoditi ekspor.

Pariwisata
Dari sektor pariwisata, beberapa objek wisata baik wisata alam, sejarah maupun budaya menjadi daya tarik tersendiri. Seperti beberapa benteng bekas peninggalan Kesultanan Buton, adat dan tradisi masyarakat Ciacia, beberapa pantai pasir putih, lanskap yang khas, serta keindahan bawah laut Basilika (Batu Atas, Siompu, Liwutongkidi, dan Kadatua).

Energi
Potensi sungai Sampolawa di Kecamatan Sampolawa dengan debit 5,40 kubik per detik yang kapasitasnya mencapai 480,00 KW. Demikian maka keberadaan sumber daya air sungai Sampolawa dapat dijadikan sebagai penopang kebutuhan pasokan listrik bagi masyarakat dan pengembangan kawasan industri bagi Kabupaten Buton Selatan.

Pranala luar


Pusat pemerintahan: Kendari


Kabupaten
Bombana  • Buton  • Buton Selatan  • Buton Tengah  • Buton Utara  • Kolaka  • Kolaka Utara  • Kolaka Timur  • Konawe  • Konawe Utara  • Konawe Selatan  • Konawe Kepulauan  • Muna  • Muna Barat  • Wakatobi


Kota


Mampir sejenak untuk melihat Daftar kabupaten dan kota Indonesia

  1. ^ "DPR Sahkan RUU Pembentukan Kabupaten Baru". 2014-06-26. Diakses tanggal 2014-08-11.
  2. ^ Wikipedia. 2014. Daftar Pulau Menurut Luas Wilayah. https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_pulau_menurut_luas_wilayah [Di akses pada tanggal 28 November 2014]
  3. ^ Zahari AM. 1977. Sejarah dan Adat Fiy Darul Butuni (Buton) I. Jakarta (ID): Proyek Pengembangan Media Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
  4. ^ Zahari AM. 1977. Sejarah dan Adat Fiy Darul Butuni (Buton) I. Jakarta (ID): Proyek Pengembangan Media Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
  5. ^ Zahari AM. 1977. Sejarah dan Adat Fiy Darul Butuni (Buton) I. Jakarta (ID): Proyek Pengembangan Media Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan